💔
22.57
Hari Natal 2020.
Playlist gue baru selesai muter Funeral-nya Zara Larsson entah berapa kali, tiba-tiba pengen denger Walkin' In Time-nya The Boyz. Tau persamaan lagu tersebut? Ya, sama-sama lagu di playlist patah hati punya gue. Dan ya, gue sedang mencoba untuk berusaha ... move on.
Capek? Iya. Berusaha move on dari Juni tahun lalu, hampir berhasil, kembali melukai diri sendiri kembali sejak Agustus tahun ini, dan baru sadar karena ditampar kenyataan 4 hari sebelum ulang tahun gue ke-25 tahun ini. Ya, baru 6 hari yang lalu. Seminggu juga belum.
Gue males buat peduli kenapa selama 25 tahun kebelakang, cerita pencapaian gue tiap akhir tahun kok malah patah hati. Kok masih aja berusaha move on kesekian kalinya. Kok ngga ada perubahan. Kok masih bisa menikmati drama drama cinta remaja. Males. Buat. Peduli.
Gimana ya, banyak hal yang pengen dibahas dengan orang yang bersangkutan tapi cuma bisa sampai diujung lidah. Pahit banget karena udah kebayang reaksinya setelah gue cerita. Gue tidak merasa dihargai atas emosi-emosi yang gue rasakan sejauh ini.
Ada aja yang bakal jadi pembanding bahwa emosi gue itu tidak baik, baiknya lebih banyak sabar dan bersyukur dan menjalani semuanya dengan simple, sederhana, nggak diambil pusing. Kata-kata positif bukan? Ya. Dan tidak.
Ngga semua masalah bisa dibawa segampang itu tanpa didiskusikan. Kalo ngga mau mikir buat diskusi ini itu, buat apa sih manusia berpasang-pasangan?
Emosi gue tidak valid. Emosi gue salah. Emosi gue seharusnya ngga ada. Emosi gue seharusnya bukan jadi emosi tapi jadi energi positif. Ya kali. Gak bisa sih terus terusan kaya gitu. Jujur aja.
Toh kalau soal marah dan kecewa, lebih banyak gue yang ngerasain akhir-akhir ini. Satu setengah tahun ini. Kalo setiap orang punya masa masa terbodoh dalam hidupnya meski cuma sekali seumur hidup. Inilah posisi gue yang paling bodoh.
Saat gue ngga berani menyatakan perasaan gue agar bisa dimengerti orang lain. Saat gue takut akan reaksi orang lain bahkan sebelum gue bertindak (benar maupun yang gue anggap 'benar'). Saat gue merasa bakal sia-sia berjuang. Saat gue capek sebelum berusaha semaksimal mungkin. Setakut itu.
Takut didiemin, takut tidak divalidkan emosinya, takut menerima perlakuan cuek yang kejadiannya di depan mata, takut akan kesunyian padahal yang diinginkan adalah jawaban-jawaban panjang. Yang terbesar, takut kalau orang lain bertindak sesuatu karena terpaksa. Buat karena niat dari hatinya sendiri.
Dengan ketakutan-ketakutan itu, gue mundur. Karena menurut gue, menjalani hal yang sama sungguhlah melelahkan batin yang gue jaga sepanjang tahun ini biar ngga capek. Eh, malah begini. Maaf ya hati, selalu kamu yang jadi korbannya.
Didalam hati yang paling dalam, susah bagi gue menyerah buat orang yang gue (amat sangat) sayang. Tapi gue pun merasa tidak cukup buat bikin dia bahagia dengan ekspektasi-ekspektasi gue diatas tadi. Kayaknya gue belum siap, belum sembuh, belum kuat. Entah kapan, tapi mungkin bukan sekarang.
Didalam hati yang paling bawah, gue merasa sudah menemukan apa yang gue cari, yang gue butuhkan, yang bisa jadi pelengkap di hidup gue. Tapi diperlakukan begini bikin gue bertanya-tanya, sampai sejauh mana gue memaklumi sifat seseorang, setelah menikah, mungkin?
Capek? Iya. Berusaha move on dari Juni tahun lalu, hampir berhasil, kembali melukai diri sendiri kembali sejak Agustus tahun ini, dan baru sadar karena ditampar kenyataan 4 hari sebelum ulang tahun gue ke-25 tahun ini. Ya, baru 6 hari yang lalu. Seminggu juga belum.
Gue males buat peduli kenapa selama 25 tahun kebelakang, cerita pencapaian gue tiap akhir tahun kok malah patah hati. Kok masih aja berusaha move on kesekian kalinya. Kok ngga ada perubahan. Kok masih bisa menikmati drama drama cinta remaja. Males. Buat. Peduli.
Gimana ya, banyak hal yang pengen dibahas dengan orang yang bersangkutan tapi cuma bisa sampai diujung lidah. Pahit banget karena udah kebayang reaksinya setelah gue cerita. Gue tidak merasa dihargai atas emosi-emosi yang gue rasakan sejauh ini.
Ada aja yang bakal jadi pembanding bahwa emosi gue itu tidak baik, baiknya lebih banyak sabar dan bersyukur dan menjalani semuanya dengan simple, sederhana, nggak diambil pusing. Kata-kata positif bukan? Ya. Dan tidak.
Ngga semua masalah bisa dibawa segampang itu tanpa didiskusikan. Kalo ngga mau mikir buat diskusi ini itu, buat apa sih manusia berpasang-pasangan?
Emosi gue tidak valid. Emosi gue salah. Emosi gue seharusnya ngga ada. Emosi gue seharusnya bukan jadi emosi tapi jadi energi positif. Ya kali. Gak bisa sih terus terusan kaya gitu. Jujur aja.
Toh kalau soal marah dan kecewa, lebih banyak gue yang ngerasain akhir-akhir ini. Satu setengah tahun ini. Kalo setiap orang punya masa masa terbodoh dalam hidupnya meski cuma sekali seumur hidup. Inilah posisi gue yang paling bodoh.
Saat gue ngga berani menyatakan perasaan gue agar bisa dimengerti orang lain. Saat gue takut akan reaksi orang lain bahkan sebelum gue bertindak (benar maupun yang gue anggap 'benar'). Saat gue merasa bakal sia-sia berjuang. Saat gue capek sebelum berusaha semaksimal mungkin. Setakut itu.
Takut didiemin, takut tidak divalidkan emosinya, takut menerima perlakuan cuek yang kejadiannya di depan mata, takut akan kesunyian padahal yang diinginkan adalah jawaban-jawaban panjang. Yang terbesar, takut kalau orang lain bertindak sesuatu karena terpaksa. Buat karena niat dari hatinya sendiri.
Dengan ketakutan-ketakutan itu, gue mundur. Karena menurut gue, menjalani hal yang sama sungguhlah melelahkan batin yang gue jaga sepanjang tahun ini biar ngga capek. Eh, malah begini. Maaf ya hati, selalu kamu yang jadi korbannya.
Didalam hati yang paling dalam, susah bagi gue menyerah buat orang yang gue (amat sangat) sayang. Tapi gue pun merasa tidak cukup buat bikin dia bahagia dengan ekspektasi-ekspektasi gue diatas tadi. Kayaknya gue belum siap, belum sembuh, belum kuat. Entah kapan, tapi mungkin bukan sekarang.
Didalam hati yang paling bawah, gue merasa sudah menemukan apa yang gue cari, yang gue butuhkan, yang bisa jadi pelengkap di hidup gue. Tapi diperlakukan begini bikin gue bertanya-tanya, sampai sejauh mana gue memaklumi sifat seseorang, setelah menikah, mungkin?
Berapa tahun? Berapa lama? Sampai di titik mana? Begitupun dengan ekspektasi-ekspektasi yang belum muncul, dan baru akan terlihat nanti.
Sampai detik ini gue juga bingung kenapa bisa memutuskan suatu hal dengan cara yang paling gue benci. Setelahnya toh pikiran gue masih tersita buat mikirin kemungkinan-kemungkinan yang ada, kalau gue tidak gegabah ngambil keputusan.
Tapi juga gue lebih bisa meratapi suatu hal kalau sudah hilang, kalau masih ada tapi bikin gue nunggu, khawatir, was-was, takut, disiksa sama perasaan sendiri, toh buat apa juga? Jadi benar, keputusan itu gegabah, tapi gue tau apa motif yang mendasarinya. Semoga.
Atau, karena capek sama diri sendiri yang entah isi hati dan isi kepalanya lagi dimana. Drama, lebay, whatever you call it, I'm only trying to understand my emotion.
Sampai detik ini gue juga bingung kenapa bisa memutuskan suatu hal dengan cara yang paling gue benci. Setelahnya toh pikiran gue masih tersita buat mikirin kemungkinan-kemungkinan yang ada, kalau gue tidak gegabah ngambil keputusan.
Tapi juga gue lebih bisa meratapi suatu hal kalau sudah hilang, kalau masih ada tapi bikin gue nunggu, khawatir, was-was, takut, disiksa sama perasaan sendiri, toh buat apa juga? Jadi benar, keputusan itu gegabah, tapi gue tau apa motif yang mendasarinya. Semoga.
Atau, karena capek sama diri sendiri yang entah isi hati dan isi kepalanya lagi dimana. Drama, lebay, whatever you call it, I'm only trying to understand my emotion.