Cukup.
14.06
Empat menit yang lalu, gue liat keluar jendela, Jakarta Selatan masih mendung. Sekarang udah hujan aja ya. Secepat itu waktu berselang dan keadaan berubah. November ini sudah sepantasnya hujan terus sih, kadang siang, kadang mendekati tengah malam. Tapi melihat status gue yang jadi karyawan normal, waktu kerjanya maksudnya, bikin merengut juga sih.
Gimana enggak? Gue akan pulang dan keluar kantor jam 18.00. Tanpa hujan pun, deretan motor mobil udah jalan pelan banget ngelewatin Sudirman sampai Stasiun Tebet, gimana dengan kendaraan umum? Angkot dan busway misalnya? Penuh sesak, belum lagi akan menjadi "langka" tiba-tiba. Karena semua pekerja akan berteduh didalamnya, panas ngga masalah, asal bisa aman dari hujan. Karena pilihan ber-ojol ria pun jadi pupus, karena takut basah. Akhirnya, si angkutan yang kadang dilupain ini, jadi favorit lagi.
Kuping sebelah lagi pake headset, jaga-jaga ada incoming call dari customer, sama seperti petugas layanan via telepon lainnya. Kuping satunya lagi pake sebelah earphone,
karena track tokyo dari RM (BTS) di album solonya, Mono, lagi pas
banget sama suasana hujan diluar. Abu-abu, menyendiri, tidak sedih-
melainkan kosong, perasaan bersalah, perasaan bahwa belum merasa 'cukup'
sepenuhnya.
2010.
Delapan
tahun lalu, gue adalah pribadi yang menurut gue sendiri, sangat perfek,
dan mandiri. Dan bisa dibilang, membanggakan. Keluarga gue termasuk
mapan (menurut gue), karena bokap seorang pns. Nyokap, ibu rumah tangga
yang baik, rajin, perhatian, masakannya enak. Gue, masih gemilang
mengukir prestasi, bahkan baru saja berhasil lolos tes masuk sekolah
menengah favorit, waktu itu.
Keluarga gue
sedang belajar mandiri karena baru beberapa bulan lalu, keluar dari
rumah dinas dan pindah rumah. Keadaan menjadi begitu berbeda, tapi
terasa cukup. Bokap semakin stabil soal pekerjaan, dan sisanya berjalan
sangat amat baik. Dari soal keseharian. kebutuhan. gue merasa cukup.
Memenuhi ekspektasi banyak pihak? Gue masih mampu, masih merasa cukup.
Merasa superior, malah. Bahwa gue selalu benar, dan selalu membanggakan.
Tunggu, udah berapa kali cerita diatas, cerita delapan tahun lalu itu gue ulang lebih dari dua post
di blog ini? Mengulang cerita yang sama, cerita sempurna itu? Harus gue
akuin, mungkin diri gue yang sekarang masih terjebak di tahun 2010 itu.
Masih terbayang betapa hal-hal tidak akan sesulit sekarang kalau saja,
kalau saja ada 'satu' bagian cerita yang tidak 'hancur'. Yang tidak
'cacat'.
Udah puluhan kata 'ikhlas' yang
berusaha gue coba ungkapin buat nerima semuanya, mencoba menerima
semuanya, lebih tepatnya. Tapi, apa? Detik ini pun gue masih terjebak
diawal dongeng yang sama. Dongeng keluarga itu.
Sejak
itu, menjalin hubungan dengan kedua orangtua gue lebih seperti menjalin
hubungan pertemanan, rekan bisnis. murid dan guru. Bukan seperti ayah
dan anak. Atau ibu dan anak gadisnya. Banyak emosi yang terpendam.
Banyak emosi yang meledak tiba-tiba.
Ada
banyak cerita yang tidak sempat dibagi, cerita senang, bersenda gurau.
Atau cerita pahit, yang berkaitan dengan trauma lama gue, yang ngga
bisa, mungkin ngga akan bisa gue bagikan kapan pun, di media apapun.
Itupun, gue masih berasa berat buat menceritakannya.
Mengungkapkan
emosi masih jadi hal yang asing buat gue. Melakukan kesalahan manusiawi
saja, masih jadi dosa besar bagi gue. Kegagalan yang emang seharusnya
wajar terjadi, bahkan gue anggap sebagai ganjaran hidup gue. Drama, iya.
Tapi kalian ngga tahu gue juga menderita dengan diri gue sendiri.
Sebanyak apa yang gue pikirin didalam kepala gue. Apa saja
perasaan-perasaan yang muncul setelah gue 'hanya' merasa tertekan.
Perasaan,
hati, dan pikiran gue akan tiba-tiba terbang ke tahun 2010 itu, merasa
terluka, menangis sejadi-jadinya, merindukan diri gue yang dulu selalu
percaya diri dan tidak pernah takut salah. Gue menyakiti, tapi selalu
merasa lebih tersakiti, sesudahnya. Parah? Banget. Menurut gue levelnya
udah parah banget. Sampai gabisa sesantai itu ngungkapin emosi gue
sebagai manusia.
Takut akan dicap
aneh-aneh, gue akhirnya bungkam. Seperti gue direntang tahun 2012-2016.
Mencari medium untuk menikmati kesendirian, luput soal keadaan sekitar.
Hanya ingin terpejam, menarik nafas panjang, sedikit air mata yang
terasa panas. Lalu tanpa terasa, tahun-tahun berlalu, berganti, dan gue
masih belum bisa beranjak dari itu semua. Selama ini.
Gue
selalu mempertanyakan kecukupan gue memenuhi 'sesuatu' dari diri gue ke
orang lain. Cukupkah selama ini gue membanggakan orangtua gue, setelah
mereka jarang bisa melihat anaknya ini? Cukupkah gue perhatian dengan
mereka saat berkomunikasi hanya bisa melalui dering telepon? Cukupkah
gue tidak merepotkan mereka?
Cukupkah gue memenuhi ekspektasi teman gue buat bisa keep in touch
dan menjaga pertemanan? Meski gue lebih suka sendiri dan ngga diganggu
gangguan-gangguan eksternal. Cukupkah gue menjadi karyawan yang teladan?
Menjadi rekan kerja yang tidak menyebalkan? Cukupkah gue menjadi netizen yang tidak nyampah di media sosial? Cukupkah gue mengungkapkan rasa sayang gue kepada pacar gue sekarang?
Karena
secara sadar, gue selalu marah-marah, merasa kesal tiba-tiba, tidak
sabaran, memancing emosi orang banyak, sarkas, dan sampah-sampah
lainnya, terlebih ke orang terdekat gue. Gue akan mencoba adil untuk
tidak menyalahi mood gue yang emang labil layaknya anak baru
pacaran kemarin sore, ataupun periode pms gue yang seharusnya udah lewat
seminggu lalu. Harusnya kau berhenti menjadi monster penghancur, Des.
Cukup tidak sih, gue memenuhi ekspektasi terhadap diri sendiri?
Selama ini?
Gue
tidak sedang merasa cukup. Sudah sedari lama, mungkin. Tapi baru bisa
tersurat sekarang. Gue ngga merasa cukup meski berusaha mandiri, karena
masih perlu dampingan ortu buat ngelarin masalah finansial gue, yang
makin kesini makin parah, duh. Meski, bukankah itu hak seorang anak?
Masih perlu bantuan orangtua buat ngelarin masalah hidupnya yang kadang
emang, gak kira-kira.
Gue ngga merasa cukup
jadi bagian dari masyarakat karena masih kesal kalau liat banyak hal
terjadi dijalanan, yang kurang enak, sepanjang gue menuju kantor, pasti
ngeluh dan komen sendiri. Buat apa juga coba? Society emang akan selalu
begitu, menyebalkan, kadang mengagumkan juga sih. Tapi, bisa kan ngga
ikut-ikutan ngedumel secara verbal kalau ada hal yang ngga ngenakin,
Des. Ntar bisa bikin hari orang lain jelek juga. Sejelek mood swing lu
itu.
Gue merasa ngga cukup sebagai support system seseorang, pacar gue. Yang non-stop dengerin gue ngedumel atau kena imbas mood swing
gue. Yang selalu gue minta untuk memanusiakan gue, tapi gue lupa
berikan haknya sebagai individu yang juga bebas, sebagai manusia. Maka
dari itu entahlah, gue lagi pengen banyak diam daripada penyampaian gue,
yang selalu negatif ini, merusak lebih banyak dari yang seharusnya.
Gue
merasa ngga cukup untuk banyak hal. Untuk ekspektasi yang gue impikan.
Untuk cita-cita yang gue raih. Gue malas untuk merasa capek. Bahkan
sebelum berusaha. Gue malas melihat reaksi, bahkan sebelum atau setelah
beraksi. Kalau ngga sesuai kemauan gue.
Rasa egois doang kayaknya yang ngga pernah sirna dari sifat gue. Pengen menang sendiri. Pengen pegang kontrol atas segalanya.
Kalau
ngga tercapai, gue bakal pake senjata 'merana' itu. Berusaha menggali
sisi senang dari hidup gue yang 'serasa' berhenti di tahun 2010 itu.
Lho, bisa sadar juga akhirnya?
Cukup.
Kamu harus merasa cukup. Atas segalanya, setelah berusaha maksimal.
Cukup.
Jangan
kembali kesana, memposisikan dirimu ditahun 2010 itu hanyalah cerita
tak berkesudahan. Kapan kamu sendiri akan merasa cukup untuk tidak
pernah kembali menoleh ke belakang?
Kapan kamu sendiri merasa cukup untuk tidak kekanakan?
Kapan kamu merasa cukup untuk bisa menjalani semuanya, sepenuhnya menjadi manusia biasa? Manusia yang memanusiakan manusia?
Kapan?
Kapan bisa berhenti kecewa, dan berhenti mengecewakan?
Sekarang sudah cukup, kan?
Kapan bisa berhenti kecewa, dan berhenti mengecewakan?
Sekarang sudah cukup, kan?
15.22, hujan sudah berhenti.
moonchild, RM (BTS)