Teruntuk Kamu pt. 2


" I only wish, I'm not waiting to only feel guilty "

Sept 23rd.

I'm watching The Great Gatsby, and somehow, somehow it reminds me of him. I put myself in Daisy's position and him as Gatsby, and somehow my very own movie made by my life situation is now rolling in my mind. Showing that I might be tired of waiting for him in years, married to someone else and then he come back, and say that he wish he could marry me. And he wish, I would wait for him.

But how if the scene has a different script?

That, I'm willingly wait for him, as I did now, and pray that one day he might come for me. But the truth is, he is happy with his life, married to someone so pretty and I was just a little footnote he ever wrote down in his story once in a lifetime. That I was forgotten? That I threw away chances to be with anyone but him, only to be loyal, and stay with my faith, in him? That I was once again, hurted. Once again, failed?

He is gone, I could say. 30th July, the night before he gone, we fought like always, worried about each other and saying things. I remember I pushed him to talk to me over the phone, something he rarely did, and he told the reason why too. But he texted, he need to call me, very soon. Because its so important, but he cannot tell why with words over texts. He wanted to call. Its weird. That I started wondering why, and waited for his call.

He called me, I didnt feel sadness coming, only grace, only thankful feeling because he fulfilled his promise to call me. To let me hear his voice again. At first 19 minutes we talked randoms, we laughed, and it was cut off. The second, for 7 minutes, he kept saying he has to leave for midnight work he's been doing for weeks. And somehow we both forgot that he wanted to say 'something important' at the first place.

After saying goodbye, I wasnt realize it was the last goodbye I ever wave to him. He didnt read my chat, or reply it, or activate his number, or being reachable ever again the day after. I'm feeling lost and begging to God to bring him back. For days, for nights. I cried. And wish, I could find any track of him, and knowing his current condition.

My head is making scripts about him. About terrible situations I dont wish it happened to him. Or is he happy now after forgetting me? I need clues. Because until today, I dont have any of it. And I'm so scared. I'm scared because I love him, so much, and it really really hurts to the bone that I dont know what to do.

I regret bad things I've done to him. I pushed him much, to be near, or to be far away from me. I had wild moodstorm. I blamed him, screamed, yelled, put all the burden on him.

To be there for me and to come over. I should've known, I've crossed the line.

But, it also his will for being there in my hard times and he promised to take me away. I mean, we have dreams. No, we built our dreams.

Our future, our wedding, our home, and our children, our own family. I didnt build it myself, he is the partner I had for the last two years, he made me alive and more 'human'. Being loved and cared, when me, only made him suffering.

Maybe I pushed him too hard. He is strong but fragile at the same time, he is my man and my babyboy at once. I changed him. He changed me.

He called. He wrote letters. He sent me birthday gifts. He made me happy. He healed me.

He who waited all night when I fell asleep after work or night outs. He who gave me supports in the morning before I go to work again. He who ever said, the most beautiful time he would have is when I'm pregnant with his child, and be his little heroes mom, when I sleep, and when I deliver those angels to the world.

I still believe. I still live in the story we wrote together, until now.

I never felt so in love like this. To believe in dreams of someone I never met.

I cried when read his blog that write a story about his childhood, that he ever told me too. I knew he is hurt. And need to be healed.

He loves his mom and his sister the most.

But I only crave another scars to you everyday we spent together, in your mouth, you said it is your happiest days. But I know darling, I was hurting you.

So many nights I spent to throw away thoughts that you really love me and sacrifice everything only for me. Now I know, all I have now are regrets.

Twitterland.

Kita ketemu sekitar tahun 2014, dua atau tepatnya empat tahun setelah booming twitter roleplayer, entah kapan kita saling memulai, entah bagaimana keadaan membawa kita dari satu kejadian ke kejadian berikutnya, hingga pada saat itu, kita bertemu.

Kita tidak langsung saling menyukai atau jatuh cinta. Kamu dengan cintamu, aku dengan cintaku. Benar adanya isi tweet salah seorang yang aku lihat ditimeline bahwa masing masing dari kita pernah berdoa agar 'langgeng' dengan seseorang yang bersama kita kala itu, sebelum mengenal satu sama lain.

Kau dengan caramu, aku dengan caraku. Malam setelah malam malam berlalu, kita bercengkrama. Siang setelah pagi, kita menyapa. Saling akrab, hingga saling bully. Saling ceramah, saling menyemangati.

Ingat kan? Kau bingung kala itu, ingin memberi hadiah romantis apalagi untuk Tiffany di hari jadi kalian, dan cerita patah hatiku bersama mantan mantan lamaku. Hingga kita bertukar nomor telepon. Beradu kata didunia nyata. Itupun setelah kau memaksa aku kembali berselancar jari untuk men-tweet di timeline roleplayer lagi setelah aku bertekad untuk menjalani kehidupan asliku. Entah kenapa, aku setuju setuju saja kan?

Aku masih sibuk dengan Chanyeol kala itu, dan aku tau, anakku Irene, suka padamu. Meski kau sebenarnya menggores luka juga padanya sih, kami kan perempuan. Tentu aku tau ponakanmu naksir sama om-nya. Eh, kau malah memberi sinyal bahwa kau suka padaku. Sehingga aku menjadi serakah, melarang kalian berhubungan lagi. Aku memang sudah banyak berbuat jahat. Padahal kalian begitu baik. Aku hanya bertahan pada keegoisanku saja.

Kau jujur tentang perasaanmu, aku pun bertanya, bagaimana perasaan Tiffany? Tapi ironis, aku memang tak sepeduli itu tentang perasaan orang lain. Kita terus bersama. Hingga entah karena apa, Tiffany kau putuskan. Ironi lain, dia memberi kita ucapan selamat. Ironi lainnya, aku tau dia masih membayangimu. Berkali kali kita bertengkar karena keyakinanku kalau kau masih belum menerima kalian telah berpisah. Dan harusnya kau hanya jadi milikku saja.

Jahatnya aku tak sepantasnya kau lupa, aku marah dengan percakapan lamamu dengan teman teman lama. Grup kakaotalkmu. Teman perempuanmu. Segalanya.

Hingga kau rela melepas semuanya untukku. Memuaskan egoku Kejahatan lain, aku cuma ingin kamu ada waktu untuk aku saja, tapi tidak pernah menghargai itu karena saat kau riuh resah menunggu kabar aku pulang, aku pergi sampai malam, berusaha bersenang senang, dan melupakan rasa syukur karena masih memilikimu.

Beribu kali salah paham yang aku mulai, kau lah yang rendah hati meminta maaf dariku. Hati besi yang aku punya lama lama meleleh, saat aku tak percaya seseorang diseberang sana, bisa sayang padaku, kau membuktikannya. Aku menerima, dan entah bagaimana, aku juga jatuh cinta padamu. Segala hal yang terjadi padaku, sejak saat itu, kau mengetahuinya.

Bahkan tangisku, lebih banyak untukmu.

Saat kita bertengkar dan kau memilih diam karena tak ingin menyakitiku.

Saat aku sangat berharap suaramu diujung sana bisa meredam gundah hatiku.

Saat mendengar kau celaka dijalan, saat berusaha menggapai apa yang aku pinta. 5 hari air mataku jatuh, tak ada keinginan untuk kembali menyakitimu lagi dengan permintaan bodohku.

Saat aku merasa gagal membahagiakanmu kala aku bisa.

Saat kau bilang, papamu lebih memilih orang lain yang pantas untukmu.

Saat kau menolak ide papa dan berusaha meyakinkanku lagi.

Saat kau memohon untuk menjadikanmu kekasih satu malam lagi kala aku berusaha lari darimu. Dan menyesalinya.

Dan sekarang, saat kau pergi setelah telepon malam itu. Tanpa ada alasan. Tanpa kabar.

Aku ingat hal hal yang pernah kau berikan. Beribu kata, gambar unik, janji manis, imaginary story, ah, dan beberapa hal nyata yang masih aku pegang sampai saat ini.

Surat cinta yang kau tulis. Dan saat ulang tahunku, katanya kau bingung mau memberiku apa. Hingga memintaku menulis 100 hal yang aku suka. Buku yang aku suka. Dan kau mengirimnya, sejauh jarak Mataram ke tempat aku dulu bekerja. Dua buah buku, dengan sticky notes yang selalu membuatku tersenyum. Susu melon kesukaanku, snack yang salah satu kotaknya berisi obat, karena kamu tau, kadang aku terserang demam tiba tiba saat malam.

Sticky notes yang kamu bilang saat kita bersama nanti, akan kamu tempel dikeningku, saat pagi sebelum aku bangun, bertuliskan 'aku sayang kamu'

Dan saat menulis ini aku jadi ingat setiap gambaran indah yang aku bayangkan bisa aku lakukan kelak jika aku bersamamu. Yang aku susun tiap malam. Dan esoknya kita bayangkan bersama.

Tentang indahnya honeymoon di Raja Ampat, meninggalkan rumah ibuku menuju rumah almarhum mama kamu, tempat tercantik yang kamu janjikan untuk keluarga kecil kita. Dan kita akan punya Hero, Alden, Seira dan Jammie. Dan kita punya seekor kelinci bernama Oreo, seekor Pomerian dan seekor Corgi! Sesuai kesukaanmu.

Kita bisa mengunjungi makam mama dan Nabila. Saat berlebaran kita harus gantian, pulang kekeluargamu dan setahun berikutnya kerumah mama aku. Kamu janji mau mengajari aku masak, belajar resep ayam taliwang kesukaanmu, meracik bubur telur saat kita tak punya uang, saat kamu menemani aku menonton sejumlah film thriller dan romance dan aku memelukmu sambil tidur saat kau sibuk bekerja dilaptop atau saat menonton pertandingan bola.

Kita sama sama sakit. Kita sama sama luka. Dalam imajinasiku, mungkin ada malam malam penuh tangis yang tertahan dan rasa khawatir saat aku harus menunggumu sadar dirumah sakit akibat penyakitmu, saat aku harus memelukmu sangat erat dan berkata tanpa henti kalau semuanya akan baik baik saja kala pikiranmu untuk mengakhiri hidup datang. Saat nyeri nyeri ditubuhmu kambuh, atau saat kau tidak bisa tidur sama sekali.

Atau saat aku tak bisa menggerakkan kakiku yang teramat nyeri, dadaku yang sesak dan mimpi mimpi burukku yang kelak datang. Kau bilang, kau akan memelukku. Dan entah bagaimana, kita saling menyembuhkan luka masa lampau kita. Saling mengingatkan kalau memaafkan bisa mengobati, mengikhlaskan bisa meringankan.

Mungkin kau akan tertidur dengan nafas beratmu, saat demam. Kau hanya mau memelukku dan meminta aku untuk mengusap rambutmu yang hitam lebat. Dalam bayanganku, nanti Hero, Alden, Seira dan Jammie pun hanya bisa tidur tenang seperti ayahnya, mendekap erat ibunya hingga lelap.

Hero akan jadi teladan yang sangat bisa diandalkan oleh ketiga adik kecilnya, ia mau menemani Seira bermain ketika berebut perhatian dengan Jammie dariku. Dan Alden, akan memanjakan Jammie, Alden bilang ayah dan mamamya boleh beristirahat sejenak, berdua saja. Alden sangat menuruni bakat ayahnya yang mandiri dan kuat, Hero dengan kesabaranmu yang begitu besar. Seira? Dengan ocehannya yang bakal membuatmu terpingkal. Kau bilang dia mirip mamanya. Pipi gembulnya kerap terlihat saat ia merajuk. Jammie? Tidak bisa tidur kecuali tengkurap didada mamanya, atau papanya. Sama sepertimu kala mereka belum muncul diantara kita.

Kau bilang nama Alden kau pilih karena film Critical Eleven, yang mengingatkanmu tentang Anya padaku. Kita sedang 'break' kala itu. Setelah kau membaca bukunya, aku juga menonton filmnya. Aku juga melihat sosok Ale pada dirimu. Dan aku memberitahumu, aku menangis enam kali loh. Teringat padamu setiap kali scene sedih berputar dilayar. Setidaknya kamu tau, kan.

Dalam imajinasiku yang lain, terbayang skenario yang jelek juga. Entah kenapa, kadang ada bayangan aku harus merelakanmu pergi terlebih dulu, penyakitmu tidaklah ringan.

Beberapa kali aku harus menahan tangis saat tau kamu drop dan memberiku kabar setelah sadar dan tengah dirawat dirumah sakit. Syukurlah temanmu ada yang seorang dokter. Aku masih bisa lega. Hey, cita citamu juga seorang dokter kan? Sayang, kau bercerita kau gagal masuk Fakultas Kedokteran di Bandung kala itu. Kau juga tau aku gagal juga jadi calon mahasiswi Akuntan. Kok kesialan kita mirip sih? Hahahaha

Aku pernah bertanya, kalau kita ngga main roleplayer, apa Tuhan masih merencanakan agar kita bertemu? Ya, kau jawab. Bahkan kau memainkan skenario yang unik, kalau kalau memang kau di Bandung, dan berkenalan denganku entah bagaimana caranya, kau akan rela mengunjungiku tiap minggunya. Kau membuatku bahagia dengan sesederhana itu.

Ohya, tentang skenario jelek itu.... menurutku tidak sepenuhnya jelek. Aku hanya takut kau berpulang ke pemilik umat manusia saat aku belum belajar ikhlas, yang aku tau, aku sudah rela sejak sekarang kalau aku membahagiakanmu dengan caraku sebelum semuanya terlambat, meski harus dengan pengorbanan, semuanya setimpal kok.

Saat aku bisa membuatmu sedikit lebih bahagia karena telah berusaha mendampingimu. Aku tidak peduli dengan efeknya dikemudian hari setelah ditinggal kamu. Yang aku tau aku telah membuktikan perasaanku, menemani kamu saat aku bisa, dan tidak pernah terbesit rasa menyesal setelahnya. Bahkan saat semuanya masih sekedar skenario sederhana seperti yang kutulis saat ini.

Ingat juga kan? Kita bertukar pesan suara saat ulang tahunku ke-20, malam itu aku dikerjai temanku dan harus menjaga adiknya yang sangat manja, namun kau menemaniku diseberang sana, tertawa saat adik temanku bercanda denganku, rasanya seperti memiliki keluarga kecil sendiri.

Entah kenapa aku ingat juga, kala kau tidak ada kabar setelah kecelakaan itu, aku menangis didepan teman teman kerjaku. Mereka menyemangatiku. Mereka menguatkanku. Dulunya mereka merasa aku lucu, saat aku bilang kekasihku ada di pulau lain dan kita belum pernah bertemu. Aku tau mereka tidak percaya.

Tapi setelahnya, mereka bahkan mengakui kalau mereka iri padaku, kau yang berada nun jauh disana sangat terasa kehadirannya untukku. Aku pernah cerita kan? Mereka iri saat kau membantuku saat susah, detik itu juga. Perhatian padaku karena kau mengirimi beberapa macam obat sehingga aku bisa melewati malam tanpa demam tinggi lagi. Mereka bilang kekasih mereka belum tentu sepeduli itu meski fisiknya berada didepan mata. Sedangkan kamu? Memperjuangkan segalanya. Aku bangga memilikimu. Ah, ingat sunset yang kau kejar untukku? Sunrise dan tulisan I miss you saat kau menaiki Rinjani. Aku kangen kamu. Dengan amat sangat.

Tahun pertama begitu berat untukmu karena kau selalu berhadapan dengan ego dan emosiku yang diluar batas. Saat aku mendorongmu jauh, kau bilang tujuanmu hanya satu. Membahagiakan satu orang, bagaimanapun caranya. Dan itu aku. Sampai tahun kedua, kita terbiasa berdiam saat berjauhan, sudah tahu akan ada untuk satu sama lain. Entah berapa kali juga kita putus nyambung. Jatuh bangun yang terasa indah, hingga aku tau, aku terbiasa ada kamu. Kadang terbesit di malam malam kosongku, sedang apa kamu disana. Tapi segan itu ada. Bimbang itu ada. Dan bahkan pikiran soal 'aku tidak baik untukmu' atau 'kau berhak bahagia bersama yang lain' juga sering datang. Karena entah bagaimana, kali ini aku bisa mengedepankan kebahagiaanmu.

Sehingga mungkin kau merasa ditarik ulur. Aku juga tidak yakin bisa membahagiakanmu. Apalagi setelah tahu, akan berat perjuangan kita karena papamu tidak merestui soal kita. Toh beliau kenal diriku saja tidak. Pihak keluargaku baru mama dan sepupuku yang tau tentang kamu. Entah kenapa, dibandingkan cerita dengan yang sebelumnya aku tidak bisa menutupi perkara kamu didepan beliau.

Beliau tau aku kadang sedih, dan bahagia itu karena kamu. Beliau menaruh keyakinan dan memperbolehkan aku mempunyai perasaan dan mempercayaimu. Bahkan mendukungku. Bahkan ikut bahagia saat aku berandai-andai kau akan datang. Menemui mama keduamu. Begitu katamu kala itu.

Sekarang aku begitu rapuh. Begitu berantakan. Karirku aku kesampingkan karena tidak kuat setelah berusaha sadar akan kenyataan, tiap malamnya aku kembali menangisimu, hingga serak memintamu kembali bagaimanapun caranya. Bagaimanpun konsekuensinya. Aku menghindari orang-orang dan kembali pergi ketempat aku biasa berharap padamu. Aku pindah kembali kerumah mama. Karena disini aku bisa bebas mengingatmu. Memegang surat darimu, buku, hadiah hadiah kecil darimu. Menulis tentangmu. Mama tidak berkomentar, beliau membiarkanku melepas kesedihan. Sementara aku juga masih memohon pada Tuhan untuk diberi petunjuk, dimana dan bagaimana kamu sekarang.

Apa motifmu pergi? Pikiranku sampai tidak bisa jernih. Apa kau hanya pergi karna menganggap aku terlalu dalam jatuh, dan kau memulai cerita lain, masih di roleplayer dengan imajinasi yang sangat berbeda? Ataukah kau pergi ke suatu tempat yang jauh yang tidak bisa kau beritahu padaku? Apa kau mengejar sesuatu? Apa kau terluka? Apa kau mengikuti saran papa, menatap masa depan barumu dengan yang lain? Berusaha melupakan aku? Apa kau bosan dan muak? Apa kau hanya ingin berhenti tanpa alasan apapun? Kau ingin sembuh? Kau... entahlah. Entah apa yang harus aku jadikan pedoman.

Yang harus kau tau pasti, diluar betul tidaknya hal yang kau tunjukkan padaku selama ini. Yang mana aku mempercayainya. Aku telah jatuh sedalam-dalamnya padamu. Entah sampai kapan.

I'm too attached to you.