Adit dan Jonghyun : Suicidal Thoughts vs Yang Terlewatkan

Senin 18 Desember 2017

Sudah lewat tengah malam, sudah tanggal 19 karena saya baru aktif paket data jam 00.00 (demi penghematan). Saya buka IG seperti biasa, ada notif kalau Maya, teman saya, reply salah satu komen di post yang saya bikin pas dia ultah, dia nulis "Hyung, Jonghyun meninggal" udah itu aja.

Mata saya langsung panas, dada berdegup dan jadi susah nafas. Kaya serasa.. mimpi. Ngga mungkin. Ngga mungkin salah satu artis yang masih muda, berbakat, bahkan dari SM dan lebih parahnya lagi salah satu anggota member SHINee. Ngga mungkin. Saya denial. Berasa bercanda. Saya langsung tau yang dimaksud adalah member SHINee karena biasnya Maya di SHINee kan Kim Jonghyun.

Tapi ditimeline juga pada bersedih, berduka cita, saya buka search page dan dari beberapa berita bilang bahwa Jonghyun meninggal karena bunuh diri. Dengan menghirup karbon monoksida, membakar bricket batu bara di penggorengan, di apartemennya sendiri. Harus shock bagaimana lagi?

Airmata langsung jatuh, karena bahkan laporannya Jonghyun sempat mengirim pesan kepada kakaknya, yang mengisyaratkan akan bunuh diri, kakaknya tsb langsung menghubungi polisi dengan laporan percobaan bunuh diri sehingga mereka mengecek kediaman Jonghyun, dan Jonghyun ditemukan tidak sadar, karena menghirup racun. Sempat dilarikan kerumah sakit, tapi Jonghyun tidak selamat. Kabarnya Minho sampai pingsan setelah tahu Jonghyun tidak dapat bertahan, Onew dan Taemin menangis sedangkan Key masih dalam perjalanan kembali ke Korea. Its such a big loss of Korean Music Industries, again, by suicide.

Saya termasuk telat denger kabar ini, karena bahkan pesan yang saya terima dari Maya, sudah 10 jam yang lalu sebelum saya mengaktifkan paket data. Timeline sudah banjir airmata dari semua fandom. Update sudah resmi dari agensi bahwa Jonghyun has passed away. Saya breakdown, sama seperti saat Kris memilih keluar dari EXO. Tapi apalagi yang lebih sakit dari kehilangan orang yang ngga akan pernah kembali? Pemakaman digelar hari ini, didatangi keluarga, member SHINee sebagai pengiring peti mati dan penerima tamu (yang secara tradisional biasanya dilakukan oleh keluarga kandung, ayah, anak, saudara atau saudara tiri) serta merta, kolega artis, keluarga SMTOWN, perih rasanya melihat banyak diantara mereka yang kehilangan dengan amat sangat, menangis, bahkan dikabarkan Yeri Red Velvet sampai pingsan. Artis agensi lain pun hadir di rumah duka. Ini kehilangan kita, sebagai keluarga besar. Idol, artis, manajemen, juga fans.

Saya cuma penikmat musik SHINee, bukan seorang Shawol. Cuma smstan, dan otak saya malah membayangkan bagaimana lebih sedihnya perasaan keluarga Jonghyun? Member SHINee? Onew sebagai leader SHINee? Shawol? seluruh fandom dan keluarga besar kita, pecinta kpop, tanah air, k-netizen, dunia?

Jonghyun tidak mengalami kecelakaan fatal, atau penyakit kronis, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya, ia merasa terkukung dan merasa meninggalkan dunia berarti ia membebaskan dirinya sendiri, dari apa? Saya tidak tahu. Hanya Jonghyun dan Tuhan yang tahu pasti. Bahkan Jonghyun tak terlihat problematik dengan kesehariannya, ia baru akan comeback solo, bahkan baru seminggu merampungkan konser solonya, Inspiration. Dengan fans yang setia, ketenaran, kesuksesan yang diraihnya, apalagi yang kurang bagi seorang Kim Jonghyun?

Banyak orang di timeline yang posting saat saat Jonghyun menikmati panggung solonya, fans yang ikut bernyanyi sebelum ia menutup konser, suaranya yang powerful disetiap performance live SHINee di stage-stage musik, karya-karya yang selama ini dilahirkannya, penampilannya dengan senyum lebar, bright personality, beberapa project SMSTATION, kolaborasi bahkan menulis lagu untuk artis-artis lain. Salah satu main vocal/artis terbaik SM yang pernah ada.

Salah satu post menyatakan selama ini Jonghyun menderita depresi, sub penyakitnya saya lupa, tapi setelah menelaah (dengan persepsi sendiri) lebih jauh, saya menemukan korelasi kematian Jonghyun dengan beberapa lirik di lagu yang ia nyanyikan dan ia buat akhir-akhir ini. Solo dan duet. Bukan saat promosi bersama member lengkap SHINee. Beruntungnya Jonghyun, ia salah satu artis yang berhasil solo promotion dan rilis beberapa album solo, bahkan punya konser solo. He was a true artist.

Setelah ikut berduka karena, ya Tuhan, kalian yang ikut dalam dunia idol kpop pasti tahu bagaimana rasanya kehilangan idola kita, apalagi meski kita mencintai mereka, mereka tidak merasa demikian sehingga mengakhiri hidupnya, meski kalian bukan fans, fandom kita yang beragam merasakan rasa sakit yang sama. Saya pun mendownload beberapa lagu, terlebih yang rank-up di portal musik setelah berita Jonghyun ini. Diantaranya, "Let Me Out" dan "Lonely (ft. Taeyeon)" dari Album Jonghyun The Collection, "Story Op. 2" dan lagu "End of The Day" dari album "Story Op. 1" ada juga lagu yang ia buat untuk Lee Hi "Breathe", dari album "Seoulite".

Entah cuma saya atau kalian juga, pasti bisa menemukan kesamaan dari lirik lagunya. Perasaan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Jonghyun. Rasa yang ia lalui, hal yang ia inginkan.

Salah satu kalimat yang ia tulis dan kirimkan untuk kakaknya sebelum mengakhiri hidup adalah "Tell me I've Worked Hard" dan bahkan dari sini terbentuk hashtag bela sungkawa #YouWorkedHardJonghyun untuk mengapresiasi mendiang.

Kalimat tersebut tertulis di lirik terjemahan dari lagu Breathe yang berbunyi ;

"You really did a good job" dan juga lagu End Of The Day yang bunyinya "You did a good job today, you worked so hard"

Entah kenapa saya berpikir, itu adalah comforting words, kata kata penenang yang Jonghyun buat untuk dirinya, pesan yang tersirat sekaligus tersurat. Juga menemukan sisi Jonghyun yang insecure di lirik dua lagu ini. Sisi Jonghyun yang merasa sudah sangat lelah dan ingin pergi.

Coba baca lirik terjemahan lagu lagu tersebut yang saya juga baca dari pop!gasa, entah hanya saya atau juga kalian, pasti bisa menemukan feel tsb. Jonghyun selama ini menyalurkan apa yang ia rasakan lewat lirik, lewat musik. Tapi kita tidak sadar, tidak memperhatikan.

Jika Jonghyun tidak mengakhiri hidupnya, maka mungkin satu dari kalian yang membaca terjemahan liriknya pasti berpikir 'ini lagu yang dalam, lagu yang penuh perasaan dan ini adalah lagu sedih' tapi dengan kenyataan yang ada sekarang, pandangan kalian mungkin akan berubah. Bahwa inilah tanda depresi itu, tanda bahwa Jonghyun merasa tidak ada yang membuat dirinya tenang dan aman. Surat sebelum ia pergi, hal yang menampar kita sebagai fans karena yang terlihat dipermukaan jauh berbeda dengan isi hati Jonghyun.

Lirik terjemahan lagu Lonely, punya arti tersembunyi yang lebih menyakitkan, setidaknya buat saya. Diantaranya tertulis:

"I’m sorry, it’s my fault
Thank you, it’s all thanks to you
These were words you said out of habit
Even though I knew you were struggling too
You probably think I’m a fool"

Jonghyun selalu meminta maaf dan mengucapkan terimakasih, ini langsung terucap seperti sudah kebiasaan, meski ia merasa bodoh dan merasa orang lain berpikir ia bodoh melakukan hal tsb.

Gue pernah pacaran dengan seseorang yang juga memiliki mental issue, depresi akut, self-harm addict, entah kenapa gue menemukan beberapa kesamaan antara Adit dan Jonghyun. Ini salah satunya, mereka cenderung meminta maaf saat merasa mengecewakan orang lain, meski sebenernya tidak.

Meminta maaf saat merasa dirinya tidak cukup baik bagi orang lain. Dan berterima kasih, bahkan dengan hal sekecil apapun yang membuat mereka berpikir seseorang peduli terhadapnya. Adit bilang, ini karena dia ngga mau telat ngucapinnya jikalau orang lain yang ia hadapi, akan segera pergi meninggalkan mereka. Karena mereka takut kehilangan. Perasaan itu selalu ada, ngga bisa hilang. Menjadi kebiasaan.

"If I say that things are hard with a crying face
Will it really get better?
If I cry and say it hurts, who will have a harder time?
Everyone will be fine"

Adit cenderung menyembunyikan apa yang ia ingin sampaikan karena khawatir itu tidak penting, ia takut di cap 'berlebihan' padahal hanya dengan cara itu Adit bisa merasa lega, tapi ia tidak mau mengecewakan orang lain. Meski itu belum tentu juga terjadi kan? Jika Adit mengeluh, siapa yang akan tersiksa? Kita yang mendengarkan, atau Adit? Jawabannya Adit. Setelah berkeluh kesah, Adit tidak merasa lega, ia malah akan semakin terpuruk karena ia merasa telah menjadi orang yang lemah. Dan perasaan menjadi lemah dimata orang lain juga sangat menyiksanya. Tersiksa atau tidak, semua orang akan baik baik saja. Jadi ia memendamnya, semua jadi serba salah kan? Kita tidak tahu mana yang Adit butuhkan. Bayangkan jika ini terjadi pada Jonghyun. Apapun yang ia lakukan, diam, menceritakan ketakutannya, terasa salah. And it consumes him, he is suffocating.

Dalam kasus ini, saya yang buta soal mental illness Adit kala itu selalu marah kalau Adit setengah setengah dalam menyampaikan pendapat, menilai Adit tidak mau ikut berkomentar. Padahal Adit takut mengecewakan saya, ia takut salah, maka dari itu ia diam. Saya mendorong Adit sampai batas, memaksa Adit menceritakan apapun, padahal Adit tidak bisa.

Ada banyak ketakutan yang ia pikirkan lebih dari effort yang saya minta, atau saya paksa, yaitu berbicara seterbuka mungkin.

"Maybe we trapped each other
Inside our own misunderstandings
No, you don’t understand me
Whenever I see your worried eyes"

Ada saat saat dimana saya merasa Adit tidak mengerti kemauan saya dihubungan kami. Karena Adit terlihat pasif. Ia cenderung banyak meminta maaf lalu terdiam. Sehingga saya terbiasa mengalihkannya dengan bersikap semuanya baik baik saja. Tapi pernah eh sering juga saya mempemasalahkannya. Sehingga Adit merasa kembali tidak berguna, kembali meminta maaf. Kembali merasa tidak pantas. Padahal sebenarnya saya yang tidak mengerti Adit. Kalau Adit tidak bisa ditekan bahkan dengan sehalus mungkin. Adit sangat rapuh. Bayangkan jika Jonghyun seperti Adit.

"Baby I’m so Lonely so Lonely
I feel like I’m alone
When I see you so tired
I worry that I’m baggage to you
That I’m too much

I don’t want to make it obvious to you
I’m used to just holding it in

Understand me"

Meski sudah berpacaran dua tahun, Adit masih membingungkan saya. Ia sering merasa 'sendirian' padahal ada saya, atau saat ia butuh, saya merasa wajar ia meminta saya menemaninya, tapi tidak, ia memilih sendiri. Lalu merasa orang lain tidak pernah ada untuknya.

Saya beberapa kali marah akan hal ini. Saya merasa tidak dihargai. Saya selalu datang saat saya butuh Adit. Saya bilang saya mau ditemani. Saya butuh teman cerita. Dengan harapan Adit juga sama, sekali saja merasa butuh terhadap kehadiran saya. Tapi kebenarannya, Adit tidak mau menjadi beban. Adit tidak mau terlihat lemah, hanya itu. Dan itu sudah pasti menyiksanya. Menyiksa kami berdua, malah. Adit ingin dimengerti tapi saya bingung bagaimana harus mengerti sosoknya. Adit cenderung bilang ia tidak apa apa. Lalu menghilang, kembali dengan kabar bahwa ia mimisan, atau mengeluarkan darah dibagian tubuh lain. Saya merasa, ia melakukan self harm. Bayangkan jika Jonghyun seperti Adit. Atau bahkan lebih parah.

"We’re together but we’re not walking together
Loneliness and misery, the difference is only one memory
But why do you keep trying to write it as something else?"

Hubungan saya dan Adit memang jarak jauh, melalui alat bantu komunikasi saja, dalam dua tahun pun kami belum pernah bertemu. Sebenernya dua kalimat pertama lirik diatas lebih ditujukan untuk saya, saya merasa tidak cukup dan memaksa Adit untuk secepatnya datang menemui saya. Saya pernah memaksa untuk datang menemuinya saja kalau ia tidak mau datang kepada saya, ia menolak. Ia merasa sedih karena merasa tidak cukup baik, tidak membahagiakan saya. Pokoknya perdebatan kami tentang bertemu satu sama lain selalu diakhiri oleh rasa pesimistis Adit yang tebal, yang membuat kami sering bertengkar hebat. Sehingga saya menangis, dan Adit melukai dirinya sendiri.

Ini adalah lirik terjemahan dari lagu Let Me Out

"Someone please hold me, I’m exhausted from this world
Someone please wipe me, I’m drenched with tears
Someone please notice my struggles first
Please acknowledge the poor me
Please help me"

Adit selalu merasa exhausted, devastated, menangis parah sampai dadanya sesak dan disaat yang sama, mengasihani dirinya sendiri. Awal-awal tentu sangat sulit, saya belum tau tentang mental illness Adit. Dan merasa aneh, merasa takut saat Adit menunjukkan hal ini, karena saya adalah orang yang paling ia percaya saat itu. Dia selalu punya suicidal thoughts, berpikir untuk bunuh diri. Tapi juga ingin diselamatkan. Meski tanpa tahu caranya bagaimana. Apakah Jonghyun juga merasakan hal yang sama? Melalui masa sulit yang sama?

Apakah Jonghyun merasa tidak cukup baik? Ya. Apakah Jonghyun butuh pengakuan ia sudah melakukan yang terbaik? Ya. Itulah kenapa ia kerap menulis lirik penyemangat untuk dirinya sendiri. Padahal ia ingin ada orang lain yang mengucapkan hal itu padanya. Menyemangatinya. Bukan berbicara pada diri sendiri. Saat ia merasa ia tidak diterima, self-harm atau parahnya berujung pada bunuh diri, ia lakukan.

Sama seperti Adit. Adit mengapresiasi perhatian sekecil mungkin.

Lirik terakhir, "But why do you keep trying to write it as something else?", terucap dipertengkaran terakhir kami. Saya sedikit banyaknya telah terpengaruh kebiasaan self-destruction Adit. Saya merasa, setelah selama ini, Adit hanya menganggap saya 'teman lama' karena tak kunjung membuka diri untuk saling mengerti. Adit mengerti saya, jujur saja. Tapi saya tidak mengerti Adit. Saya mau mengerti dia. Sampai terucap kalimat tersebut dan Adit kecewa, dia bilang 'setelah dua tahun jatuh bangun bersama kamu pikir aku menganggap kamu hanya sebatas itu?' Saya push Adit jauh jauh. Merasa ia lebih pantas bersama yang lain, dan sungguh saya ingin mencabut perkataan itu, tapi sudah tidak bisa. Dengan semua mental issue Adit, bayangkan betapa berat saya membuat Adit semakin kecewa terhadap dirinya sendiri.

Jikalau saya menjalin hubungan dengan seseorang yang keadaan mentalnya stabil. Tentu akan berbeda, ia akan kecewa, meninggalkan saya, menjalani fase move on, atau mengamini keinginan saya, memilih orang lain, yang tidak seperti saya. Atau berjuang memperbaikinya. Setelah bertengkar dan menemukan jalan keluar. Saling memaafkan kembali.

Dengan Adit, bagian itulah kesalahan terfatal saya. Adit sudah diambang batasnya. Adit tidak bisa diselamatkan. Setidaknya itu yang saya jadikan akhir cerita kami karena sebenarnya setelah Adit menelpon saya, lalu tidak ada kabar lagi setelah itu, saya pun bimbang. Kemana dia? Bunuh diri? Atau sesimpel online stranger lain? Pergi. Menjalani hidup seperti saat sebelum bertemu saya. Karena kami bertemu via platform online, dengan log out dan menghapus akun dan track lainnya seperti nomor dan id sosmed sudah menjadi jalan termudah untuk memutuskan hubungan kami.

Tapi dengan perangai Adit, mental issue yang ia miliki. Sampai saat ini, dengan setiap saat saya berdoa diberi petunjuk, saya belum menemukan jawaban. Tentu saya berharap Adit hanya muak pada saya, membenci saya dan menjalani hidup lebih baik daripada pilihan  kedua. Mengakhiri hidupnya karena sudah tidak tahan lagi.

Selama ini saya positive thinking dengan pilihan kedua saya itu, tapi setelah berita kematian/bunuh diri Jonghyun. Kesamaan yang saya temui dan saya bahas tadi. Saya breakdown lagi. Saya punya firasat lain. Ada kemungkinan bahwa Adit... mungkin... mungkin juga menyerah pada hidupnya.

Apakah saya kecewa? Ya, pada diri saya. Apakah saya menyesal pernah bersama Adit? Tidak. Mungkin tulisan yang ini bisa menjadi buktinya : Teruntuk Kamu pt. 2

Saya, sebagai orang yang menyayangi Adit, dan juga mengerti rasanya ditinggal dengan perpisahan yang menyakitkan, pasti pernah berpikir seperti ini. Andai ada satu kesempatan lagi, sehari, sejam, semenit, beberapa detik sebelum mereka memutuskan bunuh diri, ingin sekali menyampaikan bahwa saya menyayangi kalian, saya menyayangimu, Adit. Maka ayo kembali, bernafaslah lagi disebelahku. Saya akan menyayangimu dengan lebih baik, kehilanganmu adalah bagian sakit hati terperih yang pernah ada. Kembalilah.

Tapi tidak, mereka sudah cukup tegar begitu lama sehingga ingin bebas, inilah cara yang mereka pilih. Mereka tidak ingin menyakiti kita, menyusahkan kita dengan keadaan mereka lebih lama lagi. Maka mereka memilih pergi.

Saya sebenarnya sudah menulis kehilangan saya atas Adit sejak bulan September dengan tujuan bisa melepasnya pergi ketempat yang lebih baik, dibanding berdampingan dengan ego saya yang menyiksanya. Saya ingin publish post tsb di hari ulang tahun saya, tapi sebelum itu terjadi, Jonghyun-pun pergi, kurang lebih dengan cara yang sama, setelah merasa tersiksa karena hal yang sama.

Kim Jonghyun, meski bukan biasku, saya menyukai suaramu yang khas, high-notes mu, kekuatanmu menafaskan lagu lagu ballad yang menemani hari sedihku, membuatku tertawa karena kau menjadi Appa yang sangat kompetitif kala menjaga Yoogeun, perasaan tulusmu saat kau selalu bilang kau mencintai Shin Sekyung kapanpun kau bisa. Andai aku bisa melihatmu berjalan dialtar bersama kekasih pilihanmu, melihatmu tersenyum, aku akan bahagia, sebahagia aku mengenggam tangan Adit setelah mencapai mimpi mimpi kami, di pelaminan warna biru, bulan Desember dimasa depan. Maaf aku tidak bisa menyayangi kalian dengan baik.

Maafkan aku, Dit.

Shine brightly, Kim Jonghyun. #YouWorkedHard. Istirahatlah dengan tenang, dalam cinta. Kita bersedih sekarang, tapi jangan membuat kematiannya sia-sia. Jangan lupa untuk selalu peduli, pada orang yang mencintai kita, teman-teman. Cherish them, while we can. Lets be strong, always.

Ps; Ada begitu banyak alasan saya begitu menikmati waktu bersama Adit meski terpisah jarak. Lebih tenang dan nyaman bersamanya. Dialah orang pertama yang membuat saya 'siap' menjalani apapun, dengan, atau tanpanya. Adit pernah menulis sedikit kisah hidupnya yang perih, dan surat termanis untuk saya disini :

Dari Adit


Yang masih kehilangan dan merindukanmu, Desty.